Kaskus Lounge has posted a new item, 'Hari Ini 10 Agustus : Pemugaran Candi
Borobudur [NEWS-U]'
www.uniknya.com
hal unik disekitar kita. by Cerkas Communication
Hari Ini 10 Agustus : Pemugaran Candi Borobudur Aug 9th 2012, 12:57
[UNIKNYA.COM]Semenjak Candi Borobudur di temukan dimulailah usaha perbaikan dan
pemugaran kembali bangunan Candi Borobudur.Pada 10 Agustus 1973, rencana induk
untuk memulihkan Borobudur dibuat.Pemerintah Indonesia dan UNESCOmengambil
langkah untuk perbaikan menyeluruh monumen ini dalam suatu proyek besar antara
tahun 1975 dan 1982.
Candi Borobudur (sumber: blogspot.com)
Pondasi diperkokoh dan segenap 1.460 panel relief dibersihkan. Pemugaran ini
dilakukan dengan membongkar seluruh lima teras bujur sangkar dan memperbaiki
sistem drainase dengan menanamkan saluran air ke dalam monumen. Lapisan saringan
dan kedap air ditambahkan. Proyek kolosal ini melibatkan 600 orang untuk
memulihkan monumen dan menghabiskan biaya total sebesar 6.901.243 dollar AS.
Karyawan pemugaran diantaranya ada tenaga tenaga muda lulusan SMA dan
STMbangunan yang memang diberikan pendidikan khususnya mengenai teori dan
praktek dalam bidang Chemika Arkeologi ( CA ) dan Teknologi Arkeologi ( TA ).
Bagian bagian Candi Borobudur yang dipugar ialah bagian Rupadhatu, yaitu tempat
tingkat dari bawah yang berbentuk bujur sangkar. Sedangkan kaki Candi Borobudur,
serta teras I, II, III dan stupa induk juga ikut dipugar.
Candi Borobudur (sumber: blogspot.com)
Pemugaran selesai pada tanggal 23 Februari 1983 M di bawah pimpinan DR
Soekmono dengan ditandai sebuah batu prasati seberat + 20 Ton. Setelah renovasi,
UNESCO memasukkan Borobudur ke dalam daftar Situs Warisan Duniapada tahun
1991.Borobudur masuk dalam kriteria Budaya mewakili mahakarya kretivitas manusia
yang jenius, menampilkan pertukaran penting dalam nilai-nilai manusiawi dalam
rentang waktu tertentu di dalam suatu wilayah budaya di dunia, dalam pembangunan
arsitektur dan teknologi, seni yang monumental, perencanaan tata kota dan
rancangan lansekap, dan secara langsung jelas dihubungkan dengan suatu peristiwa
atau tradisi yang hidup, dengan gagasan atau dengan kepercayaan, dengan karya
seni artistik dan karya sastra yang memiliki makna universal yang luar biasa.
(**) Sumber : wikipedia.org, uniknya.com, Agustus 2012
You are receiving this email because you subscribed to this feed at
blogtrottr.com. If you no longer wish to receive these emails, you can
unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions
You may view the latest post at
http://kaskuslounge.com/hari-ini-10-agustus-pemugaran-candi-borobudur-news-u-2/
Best regards,
Kaskus Lounge
http://kaskuslounge.com
Friday, February 8, 2013
[Cerita] Dua Wajah Ibu
Cerita has posted a new item, 'Dua Wajah Ibu'
Perempuan tua itu mendongakkan wajah begitu mendengar desingan tajam di atas
ubun-ubunnya. Di langit petang yang temaram, ia melihat lampu kuning, hijau, dan
merah mengerjap-ngerjap pada ujung-ujung sayap pesawat terbang.
Deru burung besi itu kian nyaring begitu melewati tempatnya berjongkok. Ia
menghentikan gerakan tangannya. Menggiring burung itu lenyap dari mata lamurnya.
Lalu, tangannya kembali menggumuli cucian pakaian yang tak kunjung habis itu.
Beberapa detik sekali, tangan keriputnya berhenti, lalu ia menampari pipi dan
kaki. Nyamuk di belantara beton ternyata lebih ganas ketimbang nyamuk-nyamuk
rimba yang saban pagi menyetubuhi kulitnya saat menyadap karet nun jauh di
pedalaman Sumatera-Selatan sana: Tanah Abang.
Ia menarik napas, melegakan dada ringkihnya yang terasa kian menyempit. Kicauan
televisi tetangga menenggelamkan helaan napasnya. Suara musik, iklan, dan segala
hal. Perempuan itu kembali menghela napas. Lalu, bangkit dari jongkoknya,
menekan tuas sumur pompa. Irama air mengalir dalam ritme yang kacau. Kadang
besar, kadang kecil, seiring tenaganya yang timbul-tenggelam. Air keruh memenuhi
bak plastik, menindih-nindih pakaian yang bergelut busa deterjen. Bau karet
tercium menyengat begitu air itu jatuh seperti terjun.
Ia adalah Mak Inang. Belum genap satu purnama perempuan tua itu terdampar di
rimba Jakarta, di antara semak-belukar rumah kontrakan yang berdesak-desakan
macam jamur kuping yang mengembang bila musim hujan di kebun karetnya. Hidungnya
pun belum akrab dengan bau bacin selokan berair hitam kental yang mengalir di
belakang kontrakan berdinding triplek anak lanangnya. Bahkan, Mak Inang masih
sering terkaget-kaget bila tikus-tikus got Jakarta yang bertubuh hitam-besar
lagi gemuk melebihi kucing betinanya di kampung, tiba-tiba berlarian di depan
matanya.
Sesungguhnya, ia pun masih tak percaya bila terjaga dari lelapnya yang tak
pernah pulas, kalau akhirnya ia menjejakkan kaki di ibu kota Jakarta yang kerap
diceritakan orang-orang di kampungnya. Suatu tempat yang sangat asing, aneh, dan
begitu menakjubkan dalam cerita Mak Rifah, Mak Sangkut, dan beberapa perempuan
kampung karibnya, lepas perempuan-perempuan itu mengunjungi anak bujang atau pun
gadis mereka. Sesuatu yang terdengar seperti surganya dunia. Serba mewah, serba
manis, serba tak bisa ia bayangkan.
Kesinilah, Mak. Tengoklah anak lanangku, cucu bujang Emak. Parasnya rupawan
mirip almarhum Ebak, itulah suara Jamal kepadanya beberapa pekan silam. Suara
anak lanangnya yang kemerosok seperti radio tua, ia pun melipat kening saat
mengetahui suara itu berasal dari benda aneh di genggamannya.
Dengan siapa Mak ke situ? lontarnya. Ada keinginan yang menyeruak seketika di
dada Mak Inang. Keinginan yang sejatinya sudah lama terpendam. Telah lama ia
ingin melihat Jakarta. Ibu kota yang telah dikunjungi karib-karibnya. Tapi, ia
selalu tak punya alasan ke sana, walau anak lanangnya, yang cuma satu-satunya ia
miliki selain dua gadisnya yang telah diboyong suami mereka di kampung sebelah,
merantau ke kota itu. Belum pernah Jamal menawarinya ke sana. Tak heran, ketika
petang itu Jamal memintanya datang, ia lekas-lekas menanggapinya.
Tanyai Kurti, Mak. Kapan ia balik? Masalah ongkos, Mak pakai duit Emak dululah.
Nanti, bila aku sudah gajian, Emak kuongkosi pulang dan kukembalikan ongkos Emak
ke sini, itulah janji anak lanangnya sebelum mengakhiri pembicaraan. Suara
kemerosok seperti radio tua itu terputus.
Mak Inang kembali menghela napas saat ingat percakapan lewat hape dengan anak
lanangnya itu. Beberapa pekan sebelum ia merasa telah tersesat di rimba Jakarta,
di semak-belukar kontrakan yang bergot bau menyengat. Ia melepas tuas pompa, air
berhenti mengalir. Tangannya menjangkau cucian, membilasnya.
***
Kota yang panas. Itulah kesan pertama Mak Inang saat mata lamurnya menggerayangi
terminal bus Kampung Rambutan. Sedetik kemudian, ia menambahkan kesan pertamanya
itu: Kota bacin dan berbau pesing. Hidung tuanya demikian menderita ketika
membaui bau tak sedap itu. Hatinya bertanya-tanya heran melihat Kurti demikian
menikmati bau itu. Hidung pesek gadis berkulit sawo matang itu tetap saja
mengembang-embang, seolah-olah bau yang membuat perut Mak Inang mual itu tercium
melati.
Belum jua hilang rasa penat dan pusing di kepala Mak Inang, apalagi rasa pedas
di bokongnya, karena duduk sehari-semalam di bus reot yang berjalan macam keong,
beberapa orang telah berebut mengerubungi dirinya dan Kurti, macam lalat,
berdengung-dengung. Mak Inang memijit keningnya. Cupingnya pun ikut pening
dengan orang-orang yang berbicara tak jelas pada Kurti, gadis itu diam tak
menggubris, hanya menyeret Mak Inang pergi.
Mak Inang kembali memeras beberapa popok yang ia cuci, sekaligus. Telapak kaki
kanannya yang kapalan cepat-cepat menampari betis kirinya begitu beberapa nyamuk
membabi-buta di kulit keringnya. Ia menghempaskan popok yang sudah diperasnya
itu ke dalam ember plastik. Jemari tangannya menggaruk-garuk betis kirinya.
Bentol-bentol sebesar biji petai berderet-deret di kulit keringnya. Ia
menggeram. Hatinya menyumpah-serapah kepada binatang laknat tak tahu diri itu.
Dua-tiga hari pertama, Mak Inang cukup senang berada di rumah berdinding batu
setengah triplek Jamal. Rasa senangnya itu bersumber dari cucu bujangnya yang
masih merah itu. Walau, sesungguhnya Mak Inang terkaget-kaget saat Kurti
mengantarnya ke rumah Jamal. Semua di luar otak tuanya. Dalam benaknya yang
mulai ringkih, Jamal berada di rumah-rumah beton yang diceritakan Mak Sangkut,
bukan di rumah kecil sepengap ini. Keterkejutannya kian bertambah saat perutnya
melilit di subuh buta. Hanya ada satu kakus untuk berderet-deret kontrakan itu.
Itu pun baunya sangat memualkan. Hampir saja Mak Inang tak mampu menahannya.
Mak hendak pulang, Mal. Sudah seminggu, nanti pisang Emak ditebang orang, karet
pun sayang tak disadap, lontar Mak Inang di pagi yang tak bisa ia tahan lagi. Ia
benar-benar tak ingin berlama-lama di ibu kota yang sungguh aneh baginya.
Sesungguhnya, Mak Inang pun aneh dengan orang-orang yang saban hari, saban
minggu, saban bulan, dan saban tahun datang mengadu nasib ke kota ini. Apa yang
mereka cari di rimba bernyamuk ganas, berbau bacin, bertikus besar melebihi
kucing ini? Mak Inang tak bisa menghabiskan pikiran itu pada sebuah jawaban.
Akhir bulanlah, Mak. Aku gajian saban akhir bulan, sekarang tengah bulan. Tak
bisa. Pabrik juga tengah banyak order, belum bisa aku kawani Mak jalan-jalan
mutar Jakarta, ujar Jamal sembari menyeruput kopi hitam dan mengunyah rebusan
singkong. Singkong yang Mak Inang bawa seminggu silam. Mak Inang tak bersuara.
Hatinya terasa terperas dengan rasa yang kian membuatnya tak nyaman.
Kurti libur hari ini, Mak. Katanya tengah tak ada lembur di pabriknya. Nanti
kuminta ia mengawani Mak jalan-jalan. Ke mal, ke rumah anak Wak Sangkut dan Wak
Rifah, terdengar suara Mai, menantunya, dari arah dapur yang pengap.
Mak Inang mengukir senyum semringah mendengar itu. Rasa tak nyaman yang
menggiring keinginannya untuk pulang mendadak menguap. Kembali cerita Mak Rifah
dan Mak Sangkut tentang Jakarta mengelindap. Gegas sekali perempuan tua itu
menyalin baju dan menggedor-gedor pintu kontrakan Kurti. Gadis itu membuka pintu
dengan mata merah-sembab, muka awut-awutan dengan rambut yang kusut-masai. Mak
Inang tak peduli mata mengantuk Kurti, ia menggiring gadis itu untuk lekas mandi
dan menemaninya keliling Jakarta, melihat rupa wajah ibu kota yang selama ini
hanya ada dalam cerita karib sebaya dan pikirannya saja.
Serupa kali pertama Kurti mengantarnya ke muka kontrakan anak lanangnya, seperti
itulah keterkejutan Mak Inang saat menjejakkan kaki di kontrakan anak Mak
Sangkut dan Mak Rifah. Tak jauh berupa, tak ada berbeda. Kontrakan anak
karib-karibnya itu pun sama-sama pengap dan panas. Hal yang membuat Mak Inang
meremangkan kuduknya, gundukan sampah berlalat hijau dengan dengungan keras, bau
menyengat, tertumpuk hanya beberapa puluh meter saja. Kepala Mak Inang
berdenyut-denyut melihat itu. Lebih-lebih saat menghempaskan pantatnya di lantai
semen anaknya Mak Sangkut. Allahurobbi, alangkah banyak cucu Mak Sangkut,
menyempal macam rayap. Berteriak, menangis, merengek minta jajan, dan tingkah
pola yang membuat Mak Inang hendak mati rasa. Hanya setengah jam Mak Inang dan
Kurti di rumah itu, berselang-seling cucunya Mak Sangkut itu menangis.
Kebingungan Mak Inang pada orang-orang yang saban waktu datang ke Jakarta untuk
mengadu nasib kian besar saja. Apa hal yang membuat mereka tergoda ke kota bacin
lagi pesing ini? Segala apa yang ia lihat satu-dua pekan ini, tak ada yang
membuat hatinya mengembang penuh bunga. Lebih elok tinggal di kampung, menggarap
huma, membajak sawah, mengalirkan getah-getah karet dari pokoknya, batin Mak
Inang.
***
Tangan Mak Inang kembali menekan-nekan tuas pompa, air keruh dengan bau karet
yang menyengat kembali berjatuhan ke dalam bak plastik. Kadang besar, kadang
kecil, seiring dengan tenaganya yang timbul tenggelam. Lagi, Mak Inang membilas
cucian pakaian cucu, menantu, anak lanang, dan dirinya sendiri. Mendadak Mak
Inang telah merasa dirinya serupa babu. Di petang temaram bernyamuk ganas, ia
masih berkubang dengan cucian. Di kampung, waktu-waktu serupa ini, ia telah
bertelekung dan gegas membawa kakinya ke mushola, mendahului muadzin yang
sebentar lagi mengumandangkan adzan.
Lampu benderang. Serentak. Seperti telah berkongsi sebelumnya. Berkelip-kelip
macam kunang-kunang di malam kelam. Lagi, terdengar suara desingan tajam di atas
ubun-ubun Mak Inang. Ia pun kembali mendongakkan wajah, mata lamurnya melihat
lampu merah, kuning, hijau berkelip-kelip di langit temaram. Nyamuk-nyamuk pun
kian ganas dan membabi-buta menyerang kulit keringnya.
Wajah Mak Inang kian mengelap, hatinya menghitung-hitung angka di almanak dalam
benak. Berapa hari lagi menuju akhir bulan? Rasa-rasanya, telah seabad Mak Inang
melihat muka Jakarta yang di luar dugaannya. Benak Mak Inang pun hendak
bertanya: Mengapa kau tak pulang saja, Mal? Ajak anak-binimu di kampung saja.
Bersama Emak, menyadap karet, dan merawat limas. Tapi, mulut Mak Inang terkunci
rapat.
Malam di langit ibu kota merangkak bersama muka Mak Inang yang terkesiap karena
seekor tikus got hitam besar mendadak berlari di depannya. Keterkejutan Mak
Inang disudahi suara adzan dari televisi. Perempuan itu kembali menekan tuas
sumur pompa, air mengalir, jatuh ke dalam ember plastik. Ia membasuh muka tuanya
dengan wudhu. Bersamaan dengan itu, mendadak gerimis turun, seolah ibu kota pun
hendak mencuci muka kotornya dengan wudhu bersama Mak Inang. Muka tua yang telah
keriput, mengkerut, dan carut-marut.
About these ads
You may view the latest post at
http://cerita.biz/dua-wajah-ibu-2/
Best regards,
Cerita
http://cerita.biz
Perempuan tua itu mendongakkan wajah begitu mendengar desingan tajam di atas
ubun-ubunnya. Di langit petang yang temaram, ia melihat lampu kuning, hijau, dan
merah mengerjap-ngerjap pada ujung-ujung sayap pesawat terbang.
Deru burung besi itu kian nyaring begitu melewati tempatnya berjongkok. Ia
menghentikan gerakan tangannya. Menggiring burung itu lenyap dari mata lamurnya.
Lalu, tangannya kembali menggumuli cucian pakaian yang tak kunjung habis itu.
Beberapa detik sekali, tangan keriputnya berhenti, lalu ia menampari pipi dan
kaki. Nyamuk di belantara beton ternyata lebih ganas ketimbang nyamuk-nyamuk
rimba yang saban pagi menyetubuhi kulitnya saat menyadap karet nun jauh di
pedalaman Sumatera-Selatan sana: Tanah Abang.
Ia menarik napas, melegakan dada ringkihnya yang terasa kian menyempit. Kicauan
televisi tetangga menenggelamkan helaan napasnya. Suara musik, iklan, dan segala
hal. Perempuan itu kembali menghela napas. Lalu, bangkit dari jongkoknya,
menekan tuas sumur pompa. Irama air mengalir dalam ritme yang kacau. Kadang
besar, kadang kecil, seiring tenaganya yang timbul-tenggelam. Air keruh memenuhi
bak plastik, menindih-nindih pakaian yang bergelut busa deterjen. Bau karet
tercium menyengat begitu air itu jatuh seperti terjun.
Ia adalah Mak Inang. Belum genap satu purnama perempuan tua itu terdampar di
rimba Jakarta, di antara semak-belukar rumah kontrakan yang berdesak-desakan
macam jamur kuping yang mengembang bila musim hujan di kebun karetnya. Hidungnya
pun belum akrab dengan bau bacin selokan berair hitam kental yang mengalir di
belakang kontrakan berdinding triplek anak lanangnya. Bahkan, Mak Inang masih
sering terkaget-kaget bila tikus-tikus got Jakarta yang bertubuh hitam-besar
lagi gemuk melebihi kucing betinanya di kampung, tiba-tiba berlarian di depan
matanya.
Sesungguhnya, ia pun masih tak percaya bila terjaga dari lelapnya yang tak
pernah pulas, kalau akhirnya ia menjejakkan kaki di ibu kota Jakarta yang kerap
diceritakan orang-orang di kampungnya. Suatu tempat yang sangat asing, aneh, dan
begitu menakjubkan dalam cerita Mak Rifah, Mak Sangkut, dan beberapa perempuan
kampung karibnya, lepas perempuan-perempuan itu mengunjungi anak bujang atau pun
gadis mereka. Sesuatu yang terdengar seperti surganya dunia. Serba mewah, serba
manis, serba tak bisa ia bayangkan.
Kesinilah, Mak. Tengoklah anak lanangku, cucu bujang Emak. Parasnya rupawan
mirip almarhum Ebak, itulah suara Jamal kepadanya beberapa pekan silam. Suara
anak lanangnya yang kemerosok seperti radio tua, ia pun melipat kening saat
mengetahui suara itu berasal dari benda aneh di genggamannya.
Dengan siapa Mak ke situ? lontarnya. Ada keinginan yang menyeruak seketika di
dada Mak Inang. Keinginan yang sejatinya sudah lama terpendam. Telah lama ia
ingin melihat Jakarta. Ibu kota yang telah dikunjungi karib-karibnya. Tapi, ia
selalu tak punya alasan ke sana, walau anak lanangnya, yang cuma satu-satunya ia
miliki selain dua gadisnya yang telah diboyong suami mereka di kampung sebelah,
merantau ke kota itu. Belum pernah Jamal menawarinya ke sana. Tak heran, ketika
petang itu Jamal memintanya datang, ia lekas-lekas menanggapinya.
Tanyai Kurti, Mak. Kapan ia balik? Masalah ongkos, Mak pakai duit Emak dululah.
Nanti, bila aku sudah gajian, Emak kuongkosi pulang dan kukembalikan ongkos Emak
ke sini, itulah janji anak lanangnya sebelum mengakhiri pembicaraan. Suara
kemerosok seperti radio tua itu terputus.
Mak Inang kembali menghela napas saat ingat percakapan lewat hape dengan anak
lanangnya itu. Beberapa pekan sebelum ia merasa telah tersesat di rimba Jakarta,
di semak-belukar kontrakan yang bergot bau menyengat. Ia melepas tuas pompa, air
berhenti mengalir. Tangannya menjangkau cucian, membilasnya.
***
Kota yang panas. Itulah kesan pertama Mak Inang saat mata lamurnya menggerayangi
terminal bus Kampung Rambutan. Sedetik kemudian, ia menambahkan kesan pertamanya
itu: Kota bacin dan berbau pesing. Hidung tuanya demikian menderita ketika
membaui bau tak sedap itu. Hatinya bertanya-tanya heran melihat Kurti demikian
menikmati bau itu. Hidung pesek gadis berkulit sawo matang itu tetap saja
mengembang-embang, seolah-olah bau yang membuat perut Mak Inang mual itu tercium
melati.
Belum jua hilang rasa penat dan pusing di kepala Mak Inang, apalagi rasa pedas
di bokongnya, karena duduk sehari-semalam di bus reot yang berjalan macam keong,
beberapa orang telah berebut mengerubungi dirinya dan Kurti, macam lalat,
berdengung-dengung. Mak Inang memijit keningnya. Cupingnya pun ikut pening
dengan orang-orang yang berbicara tak jelas pada Kurti, gadis itu diam tak
menggubris, hanya menyeret Mak Inang pergi.
Mak Inang kembali memeras beberapa popok yang ia cuci, sekaligus. Telapak kaki
kanannya yang kapalan cepat-cepat menampari betis kirinya begitu beberapa nyamuk
membabi-buta di kulit keringnya. Ia menghempaskan popok yang sudah diperasnya
itu ke dalam ember plastik. Jemari tangannya menggaruk-garuk betis kirinya.
Bentol-bentol sebesar biji petai berderet-deret di kulit keringnya. Ia
menggeram. Hatinya menyumpah-serapah kepada binatang laknat tak tahu diri itu.
Dua-tiga hari pertama, Mak Inang cukup senang berada di rumah berdinding batu
setengah triplek Jamal. Rasa senangnya itu bersumber dari cucu bujangnya yang
masih merah itu. Walau, sesungguhnya Mak Inang terkaget-kaget saat Kurti
mengantarnya ke rumah Jamal. Semua di luar otak tuanya. Dalam benaknya yang
mulai ringkih, Jamal berada di rumah-rumah beton yang diceritakan Mak Sangkut,
bukan di rumah kecil sepengap ini. Keterkejutannya kian bertambah saat perutnya
melilit di subuh buta. Hanya ada satu kakus untuk berderet-deret kontrakan itu.
Itu pun baunya sangat memualkan. Hampir saja Mak Inang tak mampu menahannya.
Mak hendak pulang, Mal. Sudah seminggu, nanti pisang Emak ditebang orang, karet
pun sayang tak disadap, lontar Mak Inang di pagi yang tak bisa ia tahan lagi. Ia
benar-benar tak ingin berlama-lama di ibu kota yang sungguh aneh baginya.
Sesungguhnya, Mak Inang pun aneh dengan orang-orang yang saban hari, saban
minggu, saban bulan, dan saban tahun datang mengadu nasib ke kota ini. Apa yang
mereka cari di rimba bernyamuk ganas, berbau bacin, bertikus besar melebihi
kucing ini? Mak Inang tak bisa menghabiskan pikiran itu pada sebuah jawaban.
Akhir bulanlah, Mak. Aku gajian saban akhir bulan, sekarang tengah bulan. Tak
bisa. Pabrik juga tengah banyak order, belum bisa aku kawani Mak jalan-jalan
mutar Jakarta, ujar Jamal sembari menyeruput kopi hitam dan mengunyah rebusan
singkong. Singkong yang Mak Inang bawa seminggu silam. Mak Inang tak bersuara.
Hatinya terasa terperas dengan rasa yang kian membuatnya tak nyaman.
Kurti libur hari ini, Mak. Katanya tengah tak ada lembur di pabriknya. Nanti
kuminta ia mengawani Mak jalan-jalan. Ke mal, ke rumah anak Wak Sangkut dan Wak
Rifah, terdengar suara Mai, menantunya, dari arah dapur yang pengap.
Mak Inang mengukir senyum semringah mendengar itu. Rasa tak nyaman yang
menggiring keinginannya untuk pulang mendadak menguap. Kembali cerita Mak Rifah
dan Mak Sangkut tentang Jakarta mengelindap. Gegas sekali perempuan tua itu
menyalin baju dan menggedor-gedor pintu kontrakan Kurti. Gadis itu membuka pintu
dengan mata merah-sembab, muka awut-awutan dengan rambut yang kusut-masai. Mak
Inang tak peduli mata mengantuk Kurti, ia menggiring gadis itu untuk lekas mandi
dan menemaninya keliling Jakarta, melihat rupa wajah ibu kota yang selama ini
hanya ada dalam cerita karib sebaya dan pikirannya saja.
Serupa kali pertama Kurti mengantarnya ke muka kontrakan anak lanangnya, seperti
itulah keterkejutan Mak Inang saat menjejakkan kaki di kontrakan anak Mak
Sangkut dan Mak Rifah. Tak jauh berupa, tak ada berbeda. Kontrakan anak
karib-karibnya itu pun sama-sama pengap dan panas. Hal yang membuat Mak Inang
meremangkan kuduknya, gundukan sampah berlalat hijau dengan dengungan keras, bau
menyengat, tertumpuk hanya beberapa puluh meter saja. Kepala Mak Inang
berdenyut-denyut melihat itu. Lebih-lebih saat menghempaskan pantatnya di lantai
semen anaknya Mak Sangkut. Allahurobbi, alangkah banyak cucu Mak Sangkut,
menyempal macam rayap. Berteriak, menangis, merengek minta jajan, dan tingkah
pola yang membuat Mak Inang hendak mati rasa. Hanya setengah jam Mak Inang dan
Kurti di rumah itu, berselang-seling cucunya Mak Sangkut itu menangis.
Kebingungan Mak Inang pada orang-orang yang saban waktu datang ke Jakarta untuk
mengadu nasib kian besar saja. Apa hal yang membuat mereka tergoda ke kota bacin
lagi pesing ini? Segala apa yang ia lihat satu-dua pekan ini, tak ada yang
membuat hatinya mengembang penuh bunga. Lebih elok tinggal di kampung, menggarap
huma, membajak sawah, mengalirkan getah-getah karet dari pokoknya, batin Mak
Inang.
***
Tangan Mak Inang kembali menekan-nekan tuas pompa, air keruh dengan bau karet
yang menyengat kembali berjatuhan ke dalam bak plastik. Kadang besar, kadang
kecil, seiring dengan tenaganya yang timbul tenggelam. Lagi, Mak Inang membilas
cucian pakaian cucu, menantu, anak lanang, dan dirinya sendiri. Mendadak Mak
Inang telah merasa dirinya serupa babu. Di petang temaram bernyamuk ganas, ia
masih berkubang dengan cucian. Di kampung, waktu-waktu serupa ini, ia telah
bertelekung dan gegas membawa kakinya ke mushola, mendahului muadzin yang
sebentar lagi mengumandangkan adzan.
Lampu benderang. Serentak. Seperti telah berkongsi sebelumnya. Berkelip-kelip
macam kunang-kunang di malam kelam. Lagi, terdengar suara desingan tajam di atas
ubun-ubun Mak Inang. Ia pun kembali mendongakkan wajah, mata lamurnya melihat
lampu merah, kuning, hijau berkelip-kelip di langit temaram. Nyamuk-nyamuk pun
kian ganas dan membabi-buta menyerang kulit keringnya.
Wajah Mak Inang kian mengelap, hatinya menghitung-hitung angka di almanak dalam
benak. Berapa hari lagi menuju akhir bulan? Rasa-rasanya, telah seabad Mak Inang
melihat muka Jakarta yang di luar dugaannya. Benak Mak Inang pun hendak
bertanya: Mengapa kau tak pulang saja, Mal? Ajak anak-binimu di kampung saja.
Bersama Emak, menyadap karet, dan merawat limas. Tapi, mulut Mak Inang terkunci
rapat.
Malam di langit ibu kota merangkak bersama muka Mak Inang yang terkesiap karena
seekor tikus got hitam besar mendadak berlari di depannya. Keterkejutan Mak
Inang disudahi suara adzan dari televisi. Perempuan itu kembali menekan tuas
sumur pompa, air mengalir, jatuh ke dalam ember plastik. Ia membasuh muka tuanya
dengan wudhu. Bersamaan dengan itu, mendadak gerimis turun, seolah ibu kota pun
hendak mencuci muka kotornya dengan wudhu bersama Mak Inang. Muka tua yang telah
keriput, mengkerut, dan carut-marut.
About these ads
You may view the latest post at
http://cerita.biz/dua-wajah-ibu-2/
Best regards,
Cerita
http://cerita.biz
[Gaun - http://gaun.web.id] Kim Ji Hyun of Roo’ra Talks About Her Surgery and New Album
Gaun - http://gaun.web.id has posted a new item, 'Kim Ji Hyun of Roo'ra Talks
About Her Surgery and New Album'
Its been said that Koreans have a fever for bimaxillary operationsoperations
where bones in the upper and lower jaw are cut to make the face shorter and the
chin more slender. Former Roora member Kim Ji Hyun is no exception.
At the beginning of a recent interview with edaily, she looked nervous, which is
understandable considering the years shes spent out of the limelight and the
recent scandals involving former Roora members Ko Young Wook, Shin Jung Hwan,
and Lee Sang Min.
When asked what made her decide to choose such extensive surgery, she said that
she went through a lot of tough times in the past ten years and she wanted a
change in her life. She still isnt fully recovered from her surgery, but she
couldnt turn down all the offers to appear on shows.
Heres what she looked like before surgery:
Shes also known to be working on her new album. She explained that her father
passed away last month and this made her depressed. She felt that she had to
find something else to keep herself busy.
Are you excited for a Kim Ji Hyun comeback?
(Source: www.edaily.co.k)
You may view the latest post at
http://gaun.web.id/kim-ji-hyun-of-roora-talks-about-her-surgery-and-new-album/
Best regards,
http://gaun.web.id
About Her Surgery and New Album'
Its been said that Koreans have a fever for bimaxillary operationsoperations
where bones in the upper and lower jaw are cut to make the face shorter and the
chin more slender. Former Roora member Kim Ji Hyun is no exception.
At the beginning of a recent interview with edaily, she looked nervous, which is
understandable considering the years shes spent out of the limelight and the
recent scandals involving former Roora members Ko Young Wook, Shin Jung Hwan,
and Lee Sang Min.
When asked what made her decide to choose such extensive surgery, she said that
she went through a lot of tough times in the past ten years and she wanted a
change in her life. She still isnt fully recovered from her surgery, but she
couldnt turn down all the offers to appear on shows.
Heres what she looked like before surgery:
Shes also known to be working on her new album. She explained that her father
passed away last month and this made her depressed. She felt that she had to
find something else to keep herself busy.
Are you excited for a Kim Ji Hyun comeback?
(Source: www.edaily.co.k)
You may view the latest post at
http://gaun.web.id/kim-ji-hyun-of-roora-talks-about-her-surgery-and-new-album/
Best regards,
http://gaun.web.id
[Tour And Travel] Tempat Wisata di Lima Puluh Kota
Tour And Travel has posted a new item, 'Tempat Wisata di Lima Puluh Kota'
Setelah kemarin blog tempat wisata posting tentang Tempat Wisata Di Agam dan
Tempat Wisata Di Kepulauan Mentawai,kini giliran tempat wisata di Lima Puluh
Kota yang tentunya masih di provinsi Sumatera Barat.Mau tahu apa saja tempat di
lima puluh k...
You may view the latest post at
http://tourandtravel.info/tempat-wisata-di-lima-puluh-kota/
Best regards,
Tour And Travel
http://tourandtravel.info
Setelah kemarin blog tempat wisata posting tentang Tempat Wisata Di Agam dan
Tempat Wisata Di Kepulauan Mentawai,kini giliran tempat wisata di Lima Puluh
Kota yang tentunya masih di provinsi Sumatera Barat.Mau tahu apa saja tempat di
lima puluh k...
You may view the latest post at
http://tourandtravel.info/tempat-wisata-di-lima-puluh-kota/
Best regards,
Tour And Travel
http://tourandtravel.info
[Pakaian.ME] Februari 08
Pakaian.ME has posted a new item, 'Februari 08'
Semua Baju / Tas READY STOCKPengiriman dari BATAM, Pakai JNE REGOngkir ke
Jakarta : 13.500Ongkir ke Palu : 36.000 Ongkir ke Medan : 15.500Ongkir ke Padang
: 20.000 Format pemesanan :Pesanan &n...
You may view the latest post at
http://pakaian.me/februari-08/
Best regards,
Pakaian.ME
http://pakaian.me
Semua Baju / Tas READY STOCKPengiriman dari BATAM, Pakai JNE REGOngkir ke
Jakarta : 13.500Ongkir ke Palu : 36.000 Ongkir ke Medan : 15.500Ongkir ke Padang
: 20.000 Format pemesanan :Pesanan &n...
You may view the latest post at
http://pakaian.me/februari-08/
Best regards,
Pakaian.ME
http://pakaian.me
Thursday, February 7, 2013
[MP3 Lyrics] Justin Timberlake - Pusher Love Girl lyrics
MP3 Lyrics has posted a new item, 'Justin Timberlake - Pusher Love Girl lyrics'
Baby power, I gotta ask me if I want to
Tell me can I get a light
No you up and let it run through, my babe
Cause I can always see fire and stars are behind you
And I dont want ever come down, ill just try and loving you
Cause now you got me hot up on...
You may view the latest post at
http://mp3lyrics.info/justin-timberlake-pusher-love-girl-lyrics/
Best regards,
MP3 Lyrics
http://mp3lyrics.info
Baby power, I gotta ask me if I want to
Tell me can I get a light
No you up and let it run through, my babe
Cause I can always see fire and stars are behind you
And I dont want ever come down, ill just try and loving you
Cause now you got me hot up on...
You may view the latest post at
http://mp3lyrics.info/justin-timberlake-pusher-love-girl-lyrics/
Best regards,
MP3 Lyrics
http://mp3lyrics.info
[Info Lagu-Lagu] ONE PIECE 15th Anniversary BEST ALBUM
Info Lagu-Lagu has posted a new item, 'ONE PIECE 15th Anniversary BEST ALBUM'
You may view the latest post at
http://lagulagu.info/one-piece-15th-anniversary-best-album/
Best regards,
Info Lagu-Lagu
http://lagulagu.info
You may view the latest post at
http://lagulagu.info/one-piece-15th-anniversary-best-album/
Best regards,
Info Lagu-Lagu
http://lagulagu.info
Subscribe to:
Posts (Atom)
.jpg)